Komitmen Jalankan Sistem Jaminan Halal

Komitmen Jalankan Sistem Jaminan Halal

Bagi Sinar Mas Agribusiness and Food, halal tidak saja memberikan keamanan dan kenyamanan bagi konsumen yang mengkonsumsi produknya, tapi juga digunakan untuk meningkatkan daya saing.

Sinar Mas Agribusiness and Food yang merupakan bagian dari Sinarmas adalah produsen kenamaan sejumlah produk kecintaan masyarakat Indonesia seperti Minyak Goreng Sawit (Filma, Kunci Mas, Mitra, Masku) dan Margarin (Filma, Palmboom, Menara, Palmvita), dan Shortening (Filma, Menara, Palmvita).

Diproduksi dengan pengawasan yang ketat dan berkualitas tinggi, produk-produk tersebut diolah di empat (4) plant di Indonesia yang semuanya tersertifikasi halal. Dengan dukungan seperti itu, produk Sinar Mas Agribusiness and Food selain dipasarkan untuk Indonesia, juga untuk pasar ekspor yang tersebar hampir di seluruh benua Asia, Afrika, Eropa, Amerika dan Australia.

Khusus Indonesia yang memang memiliki potensi pasar tinggi serta berbanding lurus dengan jumlah populasi muslim di dunia, kehadiran produk halal menjadi keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Saat ini, trend halal baik di Indonesia maupun global sedang menunjukkan perkembangan yang pesat.

Di antara faktor yang berkontribusi terhadap perkembangan halal adalah bahwa tren halal akan mengikuti tren demografi global, di mana akan meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah populasi muslim di dunia.

Nah, dengan meningkatnya populasi muslim ini menyebabkan terjadinya pula peningkatan kebutuhan terhadap produk-produk maupun jasa berlabel halal. “Kalau dulu label halal mungkin lebih banyak dikenal hanya fokus ke produk makanan-minuman, namun sekarang akan lebih berkembang lagi ke sektor-sektor lain seperti kosmetik, produk kesehatan, fesyen, dan juga jasa, seperti pariwisata, jasa pengemasan, jasa pendistribusian, dan lainnya,” kata Karyanto Edi Mulyono, R&D Non-Category Head,  Sinar Mas Agribusiness and Food kepada Halal Review.

Selain itu, faktor meningkatnya kesadaran dan permintaan konsumen terhadap produk yang sesuai dengan syariat Islam juga turut mendorong meningkatnya tren halal. Karyanto melanjutkan bahwa produk halal mempunyai nilai-nilai yang sangat sesuai dengan gaya hidup masa kini, yaitu aman, sehat, bersih, ramah lingkungan dan berkualitas. Ini membuat produk halal menjadi lebih mudah diterima oleh konsumen.

Poin yang tak kalah penting adanya faktor peningkatan standar dan regulasi terkait produk halal yang lebih ketat, yaitu akan diberlakukannya regulasi wajib halal pada 17 Oktober 2024 mendatang. “Dari situ, tren halal di tahun 2024 akan jauh lebih meningkat lagi ke depannya,” imbuhnya.

Sekadar informasi, menurut data Global Muslim Population yang dipublikasikan dalam laman Times Prayer, jumlah pemeluk Islam global per Jumat (2/2/2024) mencapai 2 milyar dari 8 milyar orang, atau sekitar 25% dari total populasi dunia. Data tersebut juga tertuang dalam laman berita salah satu media online Indonesia.

Sementara jumlah penduduk muslim di Indonesia mencapai 242 juta dari 278 juta orang, atau sekitar 87% dari total penduduk Indonesia pada akhir tahun 2022, sebagaimana yang tertulis dalam buku “Master Plan Industri Halal Indonesia 2023-2029 keluaran Komite Nasional Ekonomi dan keuangan Syariah.

Belum lagi fakta yang menyebutkan untuk belanja muslim global, di tahun 2023 diperkirakan mencapai USD 2,4 triliun. “Atau jika kita asumsikan kurs USD sama dengan Rp15.000, itu setara dengan Rp36.000 triliun,” tambah Karyanto seraya menyebutkan sumber data dari Bank Indonesia.

Termasuk untuk pasar Indonesia, menurut data yang ada, transaksi produk halal diprediksi akan mencapai Rp4.000 triliun di 2024. “Dengan kata lain, ini sudah melebihi rencana belanja APBN di tahun 2024 yang sebesar Rp3.325,1 triliun. Intinya adalah pasar halal sangat besar sekali,” Karyanto menegaskan.

Halal Sebagai Strategi Unggulan

Berkaca dari sejumlah fakta di atas, Sinar Mas Agribusiness and Food secara komprehensif menerapkan halal di perusahaan karena adanya kepedulian kepada konsumen. Perusahaan, ungkap Karyanto, ingin menunjukkan sebagai produsen yang bertanggung jawab, dan mempunyai komitmen serta kepatuhan yang tinggi terhadap standar halal.

Baca selengkapnya mengenai Sinar Mas Agribusiness and Food di https://ihatecpublisher.com/majalah/halal-review-edisi-05-mei-2024/

Halal Menjadi Requirement Mandatory Produk Eksport

Halal Menjadi Requirement Mandatory Produk Eksport

Produk halal dianggap paling dipercaya dan aman untuk dikonsumsi masyarakat muslim. Adanya sertifikasi halal dapat memberikan proteksi dan kejelasan konsumen atas produk yang beredar di pasaran.

Perkembangan industri halal di Indonesia berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan berhasil mengerahkan daya saing pasar halal dan potensinya untuk menjadi pemain penting produk halal secara global. Faktanya, Indonesia mempunyai peringkat yang cukup baik di kategori makanan dan minuman, serta fashion halal secara global.

Afdhal Aliasar, Founder Minang Kakao & Senior Partner Dinard Standard, mencermati industri halal di Indonesia berkembangan sangat pesat. Saat ini produk yang tersertifikasi halal dan jumlah lembaga pemeriksa halal jauh lebih banyak dibandingkan 5 tahun lalu. Namun begitu, masih ada yang perlu disesuaikan secara berkesinambungan baik dari sisi regulasi maupun proses bisnis.

“Isu terpenting terkait halal adalah bagaimana masyarakat Indonesia menerima produk halal sebagai suatu persyaratan (requirement) yang seharusnya sudah biasa dan umum yang harus ada dari suatu produk,” ungkap mantan Direktur Industri Produk Halal Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) ini.

Sebabnya penting suatu produk memiliki sertifikasi halal sebagai jaminan produk telah memenuhi standar halal yang diterima masyarakat dan diakui oleh pihak berwenang. Sertifikasi halal penting bagi konsumen muslim untuk memastikan makanan atau produk yang dikonsumsi atau gunakan sesuai dengan aturan agama yang dianut. Sebaliknya bagi produsen akan menjadi nilai tambah dan meningkatkan kepercayaan konsumen kepada produknya.

Pemerintah pun terus mendorong pelaku usaha untuk menyertifikasi halal produknya, dengan adanya mandatori halal. Guna memudahkannya pemerintah melalui Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) menyiapkan dua skema sertifikasi halal, yakni skema reguler yang ditujukkan bagi pelaku usaha yang memiliki produk yang masih perlu diuji kehalalan dan skema pernyataan pelaku usaha (self declare).

Self declare cukup membantu pelaku usaha, khususnya UMKM memperoleh sertifikasi halal. Skema ini sangat masif karena mampu menjangkau UMKM yang sebelumnya tidak terjamah oleh Lembaga Pemeriksa Halal (LPH),” ujar Afdhal.

Kendati begitu Afdhal mencatat jumlah UMKM yang telah memperoleh sertifikasi halal, angkanya masih kecil dibandingkan jumlah total UMKM yang ada saat ini. Apalagi setiap saat bermunculan UMKM baru, terutama pada usaha di bidang penyajian makanan dan minuman, seperti warung nasi, rumah makan dan restoran yang belum memiliki sertifikasi halal.

(Simak Selengkapnya Hanya di https://ihatecpublisher.com/majalah/halal-review-edisi-03-maret-2024/)

Hadirkan Kegiatan Inspiratif Selama Ramadhan

Hadirkan Kegiatan Inspiratif Selama Ramadhan

Paragon sebagai induk Wardah telah menjadikan Halal dan Kualitas sebagai budaya dan jalan hidup. Lalu di bulan Ramadhan 2024 ini, bagaimana strategi Paragon memanfaatkan bulan ini untuk meningkatkan image dan pangsa pasarnya?

Wardah. Muslimah Indonesia mana pun yang kerap bersolek hampir pasti mengetahui merek tersebut. Wardah adalah merek halal pionir dari PT Paragon Technology and Innovation (PTI). Didirikan sejak 28 Februari 1995 oleh Nurhayati Subakat, Paragon telah menjelma menjadi merek ternama produk kecantikan dengan jangkauan global.

Wardah juga merupakan pioneer, perusahaan kosmetik pertama yang mendapatkan sertifikat Halal dari LPPOM MUI yang sesuai dengan standar Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

Jangkauan global Paragon sebagai induk Wardah tampak antara lain dari kepemilikan pabrik di Kawasan Industri Jatake seluas 21 hektar, yang terbagi dalam tujuh area. Satu dari tujuh area ini merupakan pusat riset dan inovasi Paragon, yang merupakan pusat penelitian dan pengembangan kosmetik terbesar di Asia Tenggara dengan lebih dari 200 saintis di dalamnya. Per Maret 2024, Paragon memiliki 14 merek, yaitu Putri, Wardah, Make Over, Emina, Kahf, Instaperfect, Crystallure, Biodef, Labore, Tavi, Earth Love Life, Beyondly, Wonderly, dan OMG.

Sejak 2011, Paragon telah menjajaki pasar Malaysia dan kini di negeri jiran telah ada merek Wardah, Kahf, Make Over, Instaperfect, Crystallure, dan Emina. Per 2024, Paragon kian melebarkan sayapnya dengan rencana memasuki negara lainnya.

Halal Sebagai Strategi Pemasaran

Sari Chairunnisa, Vice President of Research & Development, Paragon Technology & Innovation, mengatakan bahwa di dalam tubuh Paragon, halal dan kualitas sudah menjadi budaya dan jalan hidup. Salah satu wujudnya adalah dengan adanya Integrated Halal System yang dijalankan di Paragon. Integrated Halal System ini menjaga kehalalan produk dari sejak pasokan bahan baku, proses pembuatan formula, proses produksi, proses distribusi, hingga metode penjualan di toko.

(Simak selengkapnya mengenai Paragon hanya di https://ihatecpublisher.com/majalah/halal-review-edisi-03-maret-2024/)

Asli Jepang, Dijamin Halal!

Asli Jepang, Dijamin Halal!

Meskipun resep makanannya berasal dari Marigame Jepang, brand resto jejaring asal Jepang ini tetap mengutamakan halal pada setiap bahan bakunya maupun pada prosesnya.

Nama Marugame Udon sebagai sebuah restoran otentik asli dari Jepang memang sudah dikenal luas oleh pasar Indonesia. Hal tersebut tak lepas dari penetrasi jaringan outletnya yang terbilang agresif sejak resmi masuk ke Indonesia pada 2013 silam.

Adalah PT. Sriboga Marugame Indonesia yang memboyong Marugame Udon ke Indonesia setelah sebelumnya tercatat sukses besar mengembangkan brand Pizza Hut. Dengan reputasi yang mentereng, Sriboga mampu mengawal eksistensi Marugame Udon dari outlet pertama di Mal Taman Anggrek, hingga kini bahkan bisa dijumpai sampai ke ujung paling barat Indonesia yakni Aceh.

Head Marketing Marugame Udon, Renny S. Vael mengatakan kepada Halal Review bahwa Indonesia merupakan pasar potensial yang besar dan memiliki penggemar makanan Jepang yang cukup banyak sehingga kehadiran restoran ini bisa menjawab keinginan pasar akan sajian hidangan khas negara matahari tersebut.

“Kuncinya adalah komunikasi aktif kita yang selalu menyampaikan bahwa Marugame Udon ini sudah dijamin halal sehingga ini menjadi penting bagi kami agar diterima dengan nyaman oleh masyarakat,” ujarnya kepada Halal Review.

Renny meyakinkan kepada pasar bahwa semua resep yang digunakan merupakan resep asli dari Marugame Jepang namun tetap mengutamakan aspek halal baik pada bahan-bahannya maupun pada prosesnya.

Renny pun tak menampik jika Marugame Udon banyak belajar dari “saudaranya” yakni Pizza Hut dalam memahami keinginan pasar Indonesia yang memang menomorsatukan aspek halal dari produk-produknya.

Menjaga Kualitas dengan Garansi Halal

Satu dari sekian kunci kesuksesan Marugame Udon sendiri dalam perjalanan bisnisnya di Indonesia tak lepas dari komitmen perusahaan menjaga standardisasi halal. Sekadar info, Marugame Udon mendapatkan sertifikasi halal MUI pada 7 Oktober 2015 dan berkomitmen untuk terus menyajikan Udon & Tempura terbaik kepada para pelanggan setianya.

Halal bagi Marugame Udon sangat penting mengingat brand ini datang dari Jepang otentik asli dan bukan dikelola sendiri oleh Indonesia sehingga secara aktif setiap tim yang berada di Marugame Udon senantiasa mengkomunikasikan kepada pasar.

“Awal kita masuk yang paling banyak ditanyakan masyarakat Indonesia adalah halal atau tidak. Sebelum kita mendapatkan sertifikasi halal MUI kita selalu menjelaskan secara detail ke konsumen kalau kita ini halal karena kita kan majority muslim jadi sangat penting menjaga halal,” terang Renny.

(Simak selengkapnya mengenai Marugame Udon hanya di https://ihatecpublisher.com/majalah/halal-review-edisi-03-maret-2024/)

H20-Halal World 2023 & Harapan Terwujudnya Standar Halal Global

H20-Halal World 2023 & Harapan Terwujudnya Standar Halal Global

Kegiatan H20-Halal World 2023 sukses digelar pada 17 – 21 November 2023 lalu di JIExpo, Jakarta. Acara yang diprakarsai oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) ini dihadiri tak kurang dari 500 peserta yang merupakan perwakilan 118 lembaga halal dari 41 negara. Halal World merupakan forum lanjutan dari Halal-20 atau H20 yang digelar sebagai bagian dari Presidensi G20 pada tahun 2022 lalu.

H20-Halal World diharapkan mampu mendorong keberterimaan standar halal global demi memberi kemudahan pada masyarakat untuk mengakses produk halal. Hal tersebut disampaikan Wakil Presiden Ma’ruf Amin dalam sambutannya ketika membuka acara di JIEXpo Kemayoran pada Jumat (17/11/2023) malam.

“Saya mengajak kita semua meningkatkan komitmen dalam rangka menghadirkan kemudahan tersebut. Salah satu hal yang mesti diupayakan bersama yaitu mewujudkan keberterimaan standar halal global. Ini yang penting,” jelas Wapres.

Menurutnya pengakuan dan keberterimaan standar halal global dinilai mampu memperkuat kerja sama perdagangan antarnegara bukan malah menghambat. Standar halal global akan memperlancar arus perdangangan produk halal ke seluruh dunia terutama diantara negara-negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

Gelaran H20 yang berlangsung selama 4 hari diisi dengan lima bentuk kegiatan, yaitu: (1) International Halal Conference on Global Halal Standard, yang dihadiri para pakar dan Lembaga Halal Luar Negeri (LHLN) atau otoritas halal dari berbagai negara; (2) Halal Expo; (3) Halal Performance atau penampilan Industri Halal Indonesia; (4) Halal Tour, dan (5) Halal Coaching Clinic.

Kebutuhan menyeragamkan standar halal global diperlukan karena masih banyak perbedaan standar halal di tiap negara yang berakibat pada penolakan produk di masing-masing negara. Konferensi Internasional diselenggarakan sebagai upaya menyamakan pandangan standar halal sekaligus menjadi ruang dialog terbuka dan kolaborasi diantara para stakeholder LHLN dari unsur pemerintah, swasta, maupun akademisi. Pada kesempatan tersebut turut dipaparkan pula gambaran sistem sertifikasi halal di Indonesia, melalui sesi Seminar Internasional tentang regulasi dan kebijakan halal di Indonesia. Dengan menghadirkan aktor-aktor yang terlibat penerbitan sertifikat halal seperti BPJPH, Komisi Fatwa, Komite Fatwa, dan perwakilan Lembaga Pemeriksa Halal (LPH).

Salah satu outcome penting yang dihasilkan dari H20-Halal World 2023 kali ini adalah penandatanganan Mutual Recognition Agreement/MRA antara BPJPH dengan 37 LHLN (Pembahasan lebih lanjut mengenai kegiatan H20-Halal World 2023 dapat dibaca di majalah Halal Review edisi 01/Januari/2024).Foto:

1. Kiai Ma’ruf

2. Coaching Clinic

Perspektif Label Halal, Antara Order Winner dan Order Qualifier

Perspektif Label Halal, Antara Order Winner dan Order Qualifier

Generasi muda yang terdiri dari Gen Z dan milenial dapat dikatakan sebagai sleeping giant bagi pasar produk halal. Betapa tidak, jika dilihat dari komposisi jumlah penduduk, segmen ini telah berkontribusi lebih dari 53,81% dari seluruh jumlah penduduk Indonesia, dan terus bertumbuh. Sementara itu, preferensi generasi muda terhadap produk berlabel halal juga sangat menggembirakan. Merujuk pada hasil riset dari IHATEC Marketing Research, generasi muda menempatkan label halal menjadi faktor terpenting dalam membeli produk makanan dan minuman (27,7%), dibanding faktor lain seperti harga (21,6%), rasa (21,4%), dan faktor lainnya. Selain itu mereka juga rela membayar lebih mahal untuk mendapatkan produk tersebut. Dari dua sisi ini, jumlah dan daya beli, maka perhatian para pebisnis digital perlu diarahkan kepada pasar milenial, potensi yang belum dimaksimalkan.

Dalam hal inilah, peran label halal menjadi penting. Untuk mampu menembus segmen milenial dan pasar yang luas, diperlukan suatu kerja yang sistematis. Usaha ini pada prinsipnya ingin mengubah perspektif peran label halal yang semula hanya sebagai order qualifier menjadi order winner. Kita mengetahui order qualifier merupakan persyaratan suatu produk dapat ikut bersaing di pasar. Ia dapat diibaratkan misalnya sebagai tiket pendaftaran untuk ikut dalam perlombaan maraton. Namun ikut dalam lomba saja tidaklah cukup. Kita ingin bisa mendapatkan posisi yang baik, bahkan mampu unggul dibandingkan pemain lainnya. Untuk itu, label halal harus dimaksimalkan sehingga bisa menjadi suatu titik diferensiasi, yang mampu menambahkan nilai produk di mata pelanggan.

Dunia brand di Indonesia dipenuhi berbagai kisah sukses brandbrand yang berhasil luar biasa mengusung halal sebagai titik diferensiasi. Kurang afdhol kiranya, jika tidak menyebut Wardah, brand kosmetik yang sangat percaya diri mengibarkan kehalalan sebagai titik keunggulan, yang kemudian mampu mendisrupsi lansekap persaingan industri kosmetik. Atau beberapa restoran yang dengan percaya diri memasang banner halalan thoyyiban, besar-besar untuk menggambarkan keseriusannya membangun kehalalan produk. Nah jika belajar dari berbagai kisah sukses tersebut, maka saya menggambarkan sebuah framework yang kiranya bisa membantu apa saja yang diperlukan untuk menjadikan label halal sebagai titik keunggulan kita.

Kita patutnya membaca framework ini mulai dari tengah, titik intinya. Authenticity, Best Quality, Immerse, dan Conversational. Framework yang bisa digunakan untuk mengangkat status label halal, bukan lagi sekedar kewajiban, namun menjadi inti strategi dan titik diferensiasi bagi brand-brand yang unggul di Indonesia. Halalan Thoyyiban, produk halal selalu terdepan. (Pembahasan lebih lanjut mengenai framework mengenai perspektif label halal dapat dibaca di majalah Halal Review edisi 01/Januari/2024).

* * *

Dr. Wahyu T. Setyobudi, MM, ATP, CPM

Peneliti Global Business Marketing, Binus Business School

Pertimbangkan Kehalalan Produk

Pertimbangkan Kehalalan Produk

Halal telah menjelma menjadi suatu standar produk yang diinginkan dan dipertimbangkan konsumen muslim ketika membeli, tak terkecuali Teuku Wisnu. 

Dunia hiburan Tanah Air mungkin sudah tidak asing lagi dengan Teuku Wisnu. Wajahnya sering wara-wiri di iklan dan sinetron sejak tahun 2006. Namun, dalam beberapa tahun lalu, aktor yang melejit namanya ketika berperan sebagai Farrel di sinetron Cinta Fitri ini memutuskan untuk membatasi tampil di layar kaca dan memilih berhijrah demi memperdalam ilmu agama.

Semenjak hijrah, Teuku Wisnu berubah menjadi pribadi yang religius dengan menjalankan kehidupan yang berdasarkan pada agama. Salah satunya tercermin dari dirinya yang sangat selektif kala memilih makanan halal. “Ketika kita mau makan, saya dan keluarga akan mencari restoran yang memiliki logo halal. Hal itu membuat kami yakin bahwa makanan tersebut halal,” ujarnya.

Menurut Teuku Wisnu, halal sudah menjadi pertimbangan terpenting di dalam membeli makanan dan minuman, serta produk lainnya. Sebab sebagai seorang muslim, ia berkewajiban untuk menjauhkan diri dari yang haram.

You are what you eat. Dirimu sesuai dengan apa yang masuk ke dalam perutmu. Maka saya berusaha untuk mengonsumsi yang halal dan thoyyib. Jadi faktor kehalalan suatu produk menjadi keputusan utama saat membeli dan mengonsumsinya,” tegas dia.

Adanya logo halal yang disematkan di restoran, produk makanan dan minuman, serta produk lainnya. Tidak hanya untuk meyakinkan, menenangkan, dan membuat nyaman konsumen, khususnya umat Islam dalam mengonsumsi suatu produk. Tapi juga akan memberikan benefit untuk para pengusaha atau pemilik merek karena mendapatkan kepercayaan dari konsumen.

Lantas bagaimana restoran yang menyajikan menu tidak halal? Teuku Wisnu menanggapi, jika memang target pasarnya memang mereka yang tidak mengonsumsi makanan halal, maka itu adalah haknya. Tapi mungkin coba bisa diberikan tanda atau peringatan menu yang dijual non halal. (Simak lebih lanjut pembahasan mengenai Teuku Wisnu yang dapat dibaca di majalah Halal Review edisi 01/Januari/2024).