Menjejak Penyediaan Daging Halal di Arab Saudi

Menjejak Penyediaan Daging Halal di Arab Saudi

Di tengah gurun pasir yang luas dan tradisi yang mendalam, proses penyediaan daging halal di Arab Saudi berkembang menjadi simbol kepercayaan dan kualitas yang melampaui batas-batas geografis.

Kabah yang menjadi kiblat umat Islam sedunia terletak di Arab Saudi. Maka dipahami jika proses penyediaan daging halal di Arab Saudi menjadi perhatian dan rujukan sesama negara yang memiliki banyak penduduk Muslim. Daging halal tidak hanya merupakan komponen esensial dalam diet masyarakat Arab Saudi, tetapi juga simbol dari pemenuhan kewajiban religius dan kualitas hidup.

Di kerajaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam, standar halal menjadi penentu utama dalam industri pangan. Saudi Arabian Standards Organization (SASO) memainkan peran kunci dalam menetapkan standar ini, yang mencakup semua tahap produksi mulai dari bahan baku hingga pengolahan dan penyimpanan (saso.gov.sa). Standar ini menjamin bahwa produk yang dikonsumsi tidak hanya mematuhi syariat Islam, tetapi juga memenuhi ekspektasi kualitas dan keamanan pangan yang tinggi.

Sejarah dan Latar Belakang

Sejak dekade 1970-an, Arab Saudi telah memainkan peran penting dalam industri halal global dengan fokus pada sertifikasi produk makanan. Otoritas Makanan dan Obat-obatan Arab Saudi (Saudi Food and Drug Authority – SFDA) melalui Saudi Halal Center, telah mengembangkan proses aplikasi sertifikasi halal yang terstruktur. Proses ini dimulai dengan pengiriman permintaan sertifikasi halal, diikuti oleh peninjauan kelayakan pemohon oleh tim administrasi halal. Pemohon yang memenuhi syarat akan menandatangani kontrak yang mencakup biaya audit, dan tim audit akan memverifikasi kepatuhan fasilitas dengan standar halal (SFDA).

Selanjutnya, berdasarkan evaluasi komite halal, sertifikat halal dikeluarkan bagi pemohon yang disetujui. Meskipun seluruh produksi di Arab Saudi dianggap halal, tidak semua produk secara eksplisit distempel dengan label ‘Halal’. Namun, SFDA memastikan bahwa standar yang ditetapkan sesuai dengan syariat Islam dan standar kualitas serta keamanan pangan internasional (Ai-Kinani, 2024).

Pengakuan internasional terhadap standar halal Saudi, termasuk kerja sama dengan Indonesia, telah meningkatkan kepercayaan publik terhadap produk halal. Ini menegaskan posisi Arab Saudi sebagai pemimpin dalam memberikan jaminan halal, yang tidak hanya mencakup makanan tetapi juga berkembang ke berbagai aspek lain dari kehidupan sehari-hari (Kemenag RI, 2024).

Proses Penyediaan Daging Halal

SFDA menyediakan informasi yang baik mengenai bagaimana proses penyediaan daging halal di Kerajaan Arab Saudi. Proses penyediaan daging halal di Arab Saudi mengikuti standar yang ketat untuk memastikan kepatuhan terhadap syariat Islam dan kualitas produk. Tahapan produksi dimulai dengan pemilihan hewan yang sehat dan sesuai dengan kriteria halal. Proses penyembelihan halal di Arab Saudi diatur dengan sangat ketat untuk memastikan kepatuhan terhadap syariat Islam. Penyembelihan harus dilakukan oleh juru sembelih yang memiliki sertifikat kompetensi halal, yang menunjukkan bahwa mereka telah dilatih dan memenuhi standar yang ditetapkan oleh otoritas halal Saudi. Sebelum penyembelihan, juru sembelih harus mengucapkan “Bismillah” untuk menegaskan niat bahwa penyembelihan dilakukan untuk Allah swt. Ini adalah bagian penting dari proses yang membedakan daging halal dari non halal.

Simak selengkapnya hanya di (https://ihatecpublisher.com/majalah/halal-review-edisi-06-juni-2024/).

Author:

Andika Priyandana

#DagingHalalArabSaudi #KepercayaanDanKualitas #PenyediaanDagingHalal #KiblatUmatIslam #StandarHalalSaudi #SertifikasiHalal #SFDA #SaudiHalalCenter #PemenuhanSyariatIslam #KeamananPanganHalal #IndustriHalalGlobal #PengakuanInternasional #ProsesPenyembelihanHalal #JaminanHalal

Kolesterol di Sistem Pemasaran Kita

Kolesterol di Sistem Pemasaran Kita

Setahun sekali, aroma daging akan menguar ke mana-mana. Hari raya Idul Qurban, salah satu ritual penting tahunan bagi umat Islam. Di hari itu, semua berpesta merasakan daging kurban yang walaupun bentuknya sama dengan daging biasa, namun lain dikecap lidah, karena dirasai dengan iman, dirayai dengan takwa. Di fajar Idul Adha, semenjak takbir memecah langit bersama dengan terbitnya matahari, kaya miskin larut dalam kegembiraan. Silaturahmi antar tetangga yang nampaknya mahal di hari biasa, hari ini cair. Bapak-bapak berkhidmat di pos masing-masing, sementara ibu-ibu berbekal pisau dapur seadanya, membantu mencincang daging, memasukkannya dalam plastik, untuk kemudian diantar kepada sahabat-sahabat yang membutuhkan.

Saya sendiri biasanya ikut juga meramaikan acara kurban. Hanya saja untuk konsumsi daging tentu dibatasi sesuai usia. Semenjak menginjak usia empat puluhan, nampaknya perlu lebih bijak memilih makanan yang masuk ke tubuh ini. Bukan rahasia umum, bahwa salah satu zat yang perlu diwaspadai adalah kolesterol. Si lemak yang berada di pembuluh darah ini sejatinya dibutuhkan tubuh dalam jumlah sedikit. Masalah akan timbul jika kadar kolesterol melewati ambang batas. Ia dapat memicu penyakit-penyakit fatalistik lainnya. Berbagai studi telah menunjukkan bahwa kadar kolesterol tinggi akan memicu darah tinggi, jantung, stroke, hingga diabetes, yang merupakan penyakit pembunuh nomor satu di Indonesia.

Dalam tulisan ini, saya tak hendak membahas panjang lebar tentang penyakit. Dalam perspektif manajemen, tidak aneh kiranya, apabila kita menganalogikan organisasi dengan tubuh manusia. Jika manusia yang sehat dicirikan oleh kebugaran, kelincahan dan bertumbuh dengan baik, maka kebugaran organisasi dilihat dari kemampuannya untuk mendulang revenue dan menumbuhkan aset secara berkesinambungan. Pemasaran sebagai ujung tombak, yang bersinggungan dengan pelanggan, tentu memiliki peran yang krusial. Di sinilah, seringkali kita mendapati banyak hambatan, saya menyebutnya kolesterol pemasaran.

Dari berbagai pengalaman, saya mengamati hambatan yang sering ada di pembuluh darah pemasaran kita dapat diringkas dalam akronim KOLESTEROL. Pertama, KO adalah singkatan dari “KOmunikasi antar bagian yang tidak singkron”. Ibarat kapal layar yang mengarungi samudera, tim pemasaran perlu memiliki komunikasi yang sefrekuensi. Ketika layar dikembangkan ke timur, roda kemudi mesti diputar ke barat. Sauh diangkat dan buritan dikosongkan ke kanan atau ke kiri. Kru kapal merupakan satu tubuh yang satu. Tim pemasaran yang tidak mampu berkomunikasi secara efektif cenderung mengalami banyak konflik. Tim seperti ini tidak bisa memfokuskan perhatian kepada pelanggan dan pesaing, malah justru banyak menyelesaikan permasalahan internal yang tidak perlu, sebagai akibat miskomunikasi yang sering terjadi. Untuk mendapatkan sistem pemasaran yang efektif, komunikasi merupakan fondasi utamanya. Simak selengkapnya hanya di (https://ihatecpublisher.com/majalah/halal-review-edisi-06-juni-2024/)

Dr. Wahyu T. Setyobudi, Peneliti Global Business Marketing, Binus Business School

#IdulQurban #QurbanDenganIman #SilaturahmiIdulAdha #ManajemenKolesterol #SehatBersamaKurban #KomunikasiEfektif #PemasaranSehat #BisnisSehat #RevitalisasiPemasaran #ManajemenPemasaran