H20-Halal World 2023 & Harapan Terwujudnya Standar Halal Global

H20-Halal World 2023 & Harapan Terwujudnya Standar Halal Global

Kegiatan H20-Halal World 2023 sukses digelar pada 17 – 21 November 2023 lalu di JIExpo, Jakarta. Acara yang diprakarsai oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) ini dihadiri tak kurang dari 500 peserta yang merupakan perwakilan 118 lembaga halal dari 41 negara. Halal World merupakan forum lanjutan dari Halal-20 atau H20 yang digelar sebagai bagian dari Presidensi G20 pada tahun 2022 lalu.

H20-Halal World diharapkan mampu mendorong keberterimaan standar halal global demi memberi kemudahan pada masyarakat untuk mengakses produk halal. Hal tersebut disampaikan Wakil Presiden Ma’ruf Amin dalam sambutannya ketika membuka acara di JIEXpo Kemayoran pada Jumat (17/11/2023) malam.

“Saya mengajak kita semua meningkatkan komitmen dalam rangka menghadirkan kemudahan tersebut. Salah satu hal yang mesti diupayakan bersama yaitu mewujudkan keberterimaan standar halal global. Ini yang penting,” jelas Wapres.

Menurutnya pengakuan dan keberterimaan standar halal global dinilai mampu memperkuat kerja sama perdagangan antarnegara bukan malah menghambat. Standar halal global akan memperlancar arus perdangangan produk halal ke seluruh dunia terutama diantara negara-negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

Gelaran H20 yang berlangsung selama 4 hari diisi dengan lima bentuk kegiatan, yaitu: (1) International Halal Conference on Global Halal Standard, yang dihadiri para pakar dan Lembaga Halal Luar Negeri (LHLN) atau otoritas halal dari berbagai negara; (2) Halal Expo; (3) Halal Performance atau penampilan Industri Halal Indonesia; (4) Halal Tour, dan (5) Halal Coaching Clinic.

Kebutuhan menyeragamkan standar halal global diperlukan karena masih banyak perbedaan standar halal di tiap negara yang berakibat pada penolakan produk di masing-masing negara. Konferensi Internasional diselenggarakan sebagai upaya menyamakan pandangan standar halal sekaligus menjadi ruang dialog terbuka dan kolaborasi diantara para stakeholder LHLN dari unsur pemerintah, swasta, maupun akademisi. Pada kesempatan tersebut turut dipaparkan pula gambaran sistem sertifikasi halal di Indonesia, melalui sesi Seminar Internasional tentang regulasi dan kebijakan halal di Indonesia. Dengan menghadirkan aktor-aktor yang terlibat penerbitan sertifikat halal seperti BPJPH, Komisi Fatwa, Komite Fatwa, dan perwakilan Lembaga Pemeriksa Halal (LPH).

Salah satu outcome penting yang dihasilkan dari H20-Halal World 2023 kali ini adalah penandatanganan Mutual Recognition Agreement/MRA antara BPJPH dengan 37 LHLN (Pembahasan lebih lanjut mengenai kegiatan H20-Halal World 2023 dapat dibaca di majalah Halal Review edisi 01/Januari/2024).Foto:

1. Kiai Ma’ruf

2. Coaching Clinic

Perspektif Label Halal, Antara Order Winner dan Order Qualifier

Perspektif Label Halal, Antara Order Winner dan Order Qualifier

Generasi muda yang terdiri dari Gen Z dan milenial dapat dikatakan sebagai sleeping giant bagi pasar produk halal. Betapa tidak, jika dilihat dari komposisi jumlah penduduk, segmen ini telah berkontribusi lebih dari 53,81% dari seluruh jumlah penduduk Indonesia, dan terus bertumbuh. Sementara itu, preferensi generasi muda terhadap produk berlabel halal juga sangat menggembirakan. Merujuk pada hasil riset dari IHATEC Marketing Research, generasi muda menempatkan label halal menjadi faktor terpenting dalam membeli produk makanan dan minuman (27,7%), dibanding faktor lain seperti harga (21,6%), rasa (21,4%), dan faktor lainnya. Selain itu mereka juga rela membayar lebih mahal untuk mendapatkan produk tersebut. Dari dua sisi ini, jumlah dan daya beli, maka perhatian para pebisnis digital perlu diarahkan kepada pasar milenial, potensi yang belum dimaksimalkan.

Dalam hal inilah, peran label halal menjadi penting. Untuk mampu menembus segmen milenial dan pasar yang luas, diperlukan suatu kerja yang sistematis. Usaha ini pada prinsipnya ingin mengubah perspektif peran label halal yang semula hanya sebagai order qualifier menjadi order winner. Kita mengetahui order qualifier merupakan persyaratan suatu produk dapat ikut bersaing di pasar. Ia dapat diibaratkan misalnya sebagai tiket pendaftaran untuk ikut dalam perlombaan maraton. Namun ikut dalam lomba saja tidaklah cukup. Kita ingin bisa mendapatkan posisi yang baik, bahkan mampu unggul dibandingkan pemain lainnya. Untuk itu, label halal harus dimaksimalkan sehingga bisa menjadi suatu titik diferensiasi, yang mampu menambahkan nilai produk di mata pelanggan.

Dunia brand di Indonesia dipenuhi berbagai kisah sukses brandbrand yang berhasil luar biasa mengusung halal sebagai titik diferensiasi. Kurang afdhol kiranya, jika tidak menyebut Wardah, brand kosmetik yang sangat percaya diri mengibarkan kehalalan sebagai titik keunggulan, yang kemudian mampu mendisrupsi lansekap persaingan industri kosmetik. Atau beberapa restoran yang dengan percaya diri memasang banner halalan thoyyiban, besar-besar untuk menggambarkan keseriusannya membangun kehalalan produk. Nah jika belajar dari berbagai kisah sukses tersebut, maka saya menggambarkan sebuah framework yang kiranya bisa membantu apa saja yang diperlukan untuk menjadikan label halal sebagai titik keunggulan kita.

Kita patutnya membaca framework ini mulai dari tengah, titik intinya. Authenticity, Best Quality, Immerse, dan Conversational. Framework yang bisa digunakan untuk mengangkat status label halal, bukan lagi sekedar kewajiban, namun menjadi inti strategi dan titik diferensiasi bagi brand-brand yang unggul di Indonesia. Halalan Thoyyiban, produk halal selalu terdepan. (Pembahasan lebih lanjut mengenai framework mengenai perspektif label halal dapat dibaca di majalah Halal Review edisi 01/Januari/2024).

* * *

Dr. Wahyu T. Setyobudi, MM, ATP, CPM

Peneliti Global Business Marketing, Binus Business School

Pertimbangkan Kehalalan Produk

Pertimbangkan Kehalalan Produk

Halal telah menjelma menjadi suatu standar produk yang diinginkan dan dipertimbangkan konsumen muslim ketika membeli, tak terkecuali Teuku Wisnu. 

Dunia hiburan Tanah Air mungkin sudah tidak asing lagi dengan Teuku Wisnu. Wajahnya sering wara-wiri di iklan dan sinetron sejak tahun 2006. Namun, dalam beberapa tahun lalu, aktor yang melejit namanya ketika berperan sebagai Farrel di sinetron Cinta Fitri ini memutuskan untuk membatasi tampil di layar kaca dan memilih berhijrah demi memperdalam ilmu agama.

Semenjak hijrah, Teuku Wisnu berubah menjadi pribadi yang religius dengan menjalankan kehidupan yang berdasarkan pada agama. Salah satunya tercermin dari dirinya yang sangat selektif kala memilih makanan halal. “Ketika kita mau makan, saya dan keluarga akan mencari restoran yang memiliki logo halal. Hal itu membuat kami yakin bahwa makanan tersebut halal,” ujarnya.

Menurut Teuku Wisnu, halal sudah menjadi pertimbangan terpenting di dalam membeli makanan dan minuman, serta produk lainnya. Sebab sebagai seorang muslim, ia berkewajiban untuk menjauhkan diri dari yang haram.

You are what you eat. Dirimu sesuai dengan apa yang masuk ke dalam perutmu. Maka saya berusaha untuk mengonsumsi yang halal dan thoyyib. Jadi faktor kehalalan suatu produk menjadi keputusan utama saat membeli dan mengonsumsinya,” tegas dia.

Adanya logo halal yang disematkan di restoran, produk makanan dan minuman, serta produk lainnya. Tidak hanya untuk meyakinkan, menenangkan, dan membuat nyaman konsumen, khususnya umat Islam dalam mengonsumsi suatu produk. Tapi juga akan memberikan benefit untuk para pengusaha atau pemilik merek karena mendapatkan kepercayaan dari konsumen.

Lantas bagaimana restoran yang menyajikan menu tidak halal? Teuku Wisnu menanggapi, jika memang target pasarnya memang mereka yang tidak mengonsumsi makanan halal, maka itu adalah haknya. Tapi mungkin coba bisa diberikan tanda atau peringatan menu yang dijual non halal. (Simak lebih lanjut pembahasan mengenai Teuku Wisnu yang dapat dibaca di majalah Halal Review edisi 01/Januari/2024).