Menimbang Peluang & Tantangan Wisata Halal di Indonesia

Menimbang Peluang & Tantangan Wisata Halal di Indonesia

Indonesia dengan segala pesona alamnya telah lama mencuri hati banyak wisatawan mancanegara. Dengan garis pantai terpanjang, deretan gunung berapi, dan pesona hutan tropis dengan air terjun, hingga telaga sebening kaca, tentu mampu menaklukan hati siapapun. Beragamnya kearifan lokal negeri ini turut pula memikat para wisatawan luar untuk mengeksplorasi ragam budaya yang ada. Penerimaan devisa dari sektor ini pun cukup besar. Di tengah maraknya tren wisata halal global, bagaimanakah peluang dan tantangannya bagi pariwisata Indonesia?

Potret Pariwisata Indonesia

Industri pariwisata menjadi salah satu sektor andalan penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sektor ini menyumbang tak kurang dari 4,6% dari PDB nasional melalui penerimaan devisa, pajak, dan lain-lain pada 2019 lalu. Torehan prestasi pariwisata Indonesia tak kalah dari negara lainnya. Di tingkat global pariwisata Indonesia meraih peringkat ke 32 dari 117 negara dalam Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) pada 2021, berdasarkan rilis World Economy Forum pada Mei 2022. Tak jarang video singkat destinasi wisata di negeri ini viral di media sosial dan mengundang atensi wisatawan mancanegara.

Namun sektor pariwisata sempat terpukul saat pandemi Covid-19 melanda dunia. Hingga kini geliat pariwisata Indonesia masih mencoba bangkit. Meski telah pulih dari kondisi pandemi, kinerja sektor pariwisata nasional masih jauh jika dibandingkan capaian sebelum pandemi. Penerimaan devisa negara dari pariwisata pernah mencapai 16,91 miliar USD pada 2019 yang berasal dari total kunjungan 16,9 juta orang. Sementara pada 2023 devisa sektor ini belum melampaui setengahnya, yaitu baru mencapai 5,95 miliar USD. Devisa pariwisata merupakan penerimaan negara dari sektor pariwisata yang berasal dari kunjungan wisatawan mancanegara.

Di tengah kondisi tersebut, Indonesia kembali dinobatkan sebagai Top Muslim Friendly Destination of The Year 2023 dalam Mastercard CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2023. Indonesia bersama dengan Malaysia mendapat raihan skor imbang 73, yang menjadikan keduanya berada pada urutan teratas sebagai destinasi wisata ramah muslim di dunia. Torehan prestasi tersebut mengulang capaian pada 2019, di mana Indonesia menjadi jawara pada GMTI 2019.

Tren Wisata Halal

Pariwisata halal tengah menjadi tren global saat ini. Seiring dengan konsep syariah yang lebih dulu menjadi tren dalam ekonomi global, seperti makanan dan minuman, keuangan, dan gaya hidup, tren wisata halal pun mulai banyak diperkenalkan. Wisata halal tak hanya berkembang di negara muslim namun juga di tingkat global. Negara seperti Jepang, Australia, Thailand, Selandia Baru, dan lainnya turut pula me-launching produk wisata halal.

Mengutip data GMTI, jumlah wisatawan muslim global mencapai 140 juta pada 2023. GMTI memproyeksikan peningkatan hingga 230 juta orang pada tahun 2028, dengan perkiraan pengeluaran sebesar 225 miliar USD. Saat ini, Asia merupakan negara dengan jumlah kedatangan wisatawan terbanyak, dengan lebih dari 31% wisatawan yang datang ke wilayah ini adalah muslim. Sebuah peluang yang baik untuk Indonesia.

Sejak tahun 2008, CrescentRating bersama dengan mitra strategisnya, Mastercard, fokus memberikan wawasan mendalam untuk membantu semua pemangku kepentingan memenuhi pasar gaya hidup muslim/halal yang berkelanjutan. Salah satu output-nya adalah publikasi penelitian perjalanan & pariwisata halal, makanan halal, generasi milenial muslim, Gen Z, dan profil lainnya. Mastercard CrescentRating melalui GMTI, telah mengkurasi kinerja negara-negara OKI dan non-OKI berdasarkan daya tariknya terhadap wisatawan muslim.

GMTI merupakan indeks perjalanan muslim global yang mengklasifikasikan dan menilai negara-negara berdasarkan atribut ramah muslim (muslim friendly) dalam sektor pariwisata. GMTI mengukur indeks terhadap 138 negara tujuan wisata ramah muslim. Indeks ini menilai destinasi berdasarkan empat kriteria utama, yaitu akses, komunikasi, lingkungan, dan layanan. Keberhasilan Indonesia dalam GMTI 2023 menunjukkan bahwa Indonesia telah berhasil menciptakan lingkungan yang ramah dan sesuai dengan kebutuhan wisatawan muslim.

Konsep wisata halal, seperti yang dikutip dari Alexander Reyaan, Direktur Wisata Minat Khusus Kemenparekraf, adalah sebuah model atau paket layanan tambahan (extended service) amenitas yang ditujukkan dan diberikan untuk memenuhi pengalaman dan keinginan wisatawan muslim. Layanan tambahan dibedakan menjadi 2 kategori; 1) need to have, seperti makanan halal dan fasilitas untuk salat, dan 2) good to have, seperti toilet yang ramah bagi muslim.

Pemerintah melalui Kemenparekraf pun serius menangkap peluang pariwisata halal ini dan menjadikannya program prioritas sejak 2015. Salah satunya ditindaklanjuti dengan pengembangan 10 Destinasi Halal Prioritas Nasional di tahun 2018 yang mengacu standar GMTI, antara lain: Aceh, Riau dan Kepulauan Riau, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur (Malang Raya), Lombok, dan Sulawesi Selatan (Makassar dan sekitarnya).

Peluang dan Tantangan Pengembangan Wisata Halal di Indonesia

Keberhasilan Indonesia meraih predikat Top Muslim Friendly Destination, telah membuktikan negeri ini punya potensi besar sebagai destinasi halal dunia. Potensi keindahan tempat wisata dengan beragam landscape, ragam budaya khas masing-masing daerah, hingga mayoritas penduduknya yang muslim, menjadi modal awal pengembangan wisata halal.

Terbukti dalam 2 tahun terakhir Kemenparekraf mencatat total kunjungan wisatawan mancanegara meningkat secara umum dari 798 ribu (Januari 2022) menjadi 927ribu wisatawan (2024). Meski tidak secara eksplisit menghitung jumlah wisatawan muslim, namun yang menarik dari data tersebut adalah tercatatnya kenaikan yang signifikan sebesar hampir 59% dari negara Arab Saudi sebagai negara wisatawan muslim, pada periode Januari 2024 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun pengembangan wisata halal di Indonesia bukan tanpa hambatan. Pada masa awal wisata halal digaungkan Pemerintah, banyak pihak menolak dengan alasan khawatir adanya Islamisasi tempat wisata dan praktik intoleransi. Padahal anggapan itu jelas keliru. Fokus wisata halal adalah bagaimana wisatawan muslim dapat dengan nyaman berwisata dengan tetap menjaga ibadah dan kesesuaian dengan keyakinannya, bukan mengubah budaya setempat menjadi Islami. Hal tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah beserta pihak terkait untuk meningkatkan sosialisasi dan menjamin bahwa konsep wisata halal tidak akan mengganggu budaya asli Indonesia yang beragam. Harapannya wisata halal dapat diterima oleh masyarakat.

Tantangan berikutnya adalah belum adanya regulasi yang mengatur secara komprehensif tentang wisata halal di Indonesia. Regulasi wisata masih mengacu pada UU No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, yang belum secara spesifik mengatur wisata halal. Meski sebelumnya diterbitkan PerMen Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 2 Tahun 2014 tentang Pedoman Penyelenggaraan Usaha Hotel Syariah, namun Peraturan tersebut telah dicabut pada 2016.

Kementerian Pariwisata baru sebatas menerbitkan Buku Panduan Penyelenggaraan Pariwisata Halal pada 2019, sebagai acuan bagi Pemerintah, Pemerintah Daerah, pelaku usaha, dan para pemangku kepentingan dalam penyelenggaraan wisata halal di Indonesia.

Panduan wisata halal terdapat pada fatwa Dewan Syariah Indonesai Majelis Ulama Indonesia/DSN-MUI Nomor 108/DSN-MUI/X/2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pariwisata Berdasarkan Syariah. Panduan ini berlaku jika pelaku usaha ingin disertifikasi syariah oleh DSN. Di dalamnya mengatur aspek hotel, spa, sauna, dan massage, objek wisata, dan biro perjalanan. Namun demikian sertifikasi syariah ini bersifat sukarela, dan bukan regulasi yang mengikat.

Regulasi yang mengatur wisata halal diperlukan sebagai standar minimal pelayanan yang perlu dipatuhi para pihak terkait. Keseragaman yang dibakukan akan memudahkan Pemerintah melakukan penilaian dan evaluasi untuk pengembangan wisata halal yang berkelanjutan.

Tantangan lainnya adalah belum banyak tersedia sarana prasarana yang baik pada pariwisata halal di Indonesia. Sebagai contoh, belum banyak hotel yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah dan juga restoran hotel yang tersertifikasi halal.

Meski Indonesia meraih skor tinggi Indonesia dalam GMTI yang didasarkan pada penilaian layanan pilihan santapan halal, akses mudah ke tempat sholat, akomodasi ramah muslim, dan lainnya, namun tak menampik fakta masih minimnya sarpras pendukung yang telah tersertifikasi halal.

Berbeda dengan negara tetangga Malasysia dan Singapura yang telah memiliki hotel syariah dan restoran tersertifikasi halal yang cukup banyak jika dibandingkan dengan Indonesia. Sertifikasi halal dapat menjadi salah satu upaya menjaga keberlanjutan wisata halal.

Masih minimnya kedua fasilitas di atas tentu menjadi tantangan tersendiri bagi perkembangan wisata halal di Indonesia. Oleh sebab itu, pemerintah pusat maupun daerah perlu bersinergi dalam menyediakan dan meningkatkan sarana dan prasana yang memadai, sehingga minat wisatawan muslim untuk datang ke Indonesia semakin besar.

Tak dipungkiri Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai destinasi wisata halal dunia. Alam, adat istiadat, hingga populasi muslim yang banyak lebih dari cukup sebagai modal awal. Torehan prestasi wisata halal Indonesia turut memvalidasi hal tersebut. Namun demikian, potensi yang dimiliki Indonesia tidak akan dapat berkembang secara optimal tanpa pengelolaan yang benar dan profesional. Dukungan penuh pemerintah pusat dan daerah, jelas sangat dibutuhkan untuk menciptakan “Wonderful & Halal Indonesia”. (Anidah)

Catatan Penting untuk Halal Traveling

Catatan Penting untuk Halal Traveling

Semua orang suka traveling. Menyeruput kopi panas di ketinggian 1000 mdpl sambil ditemani gulungan awan putih, atau berjalan di tepian pantai seraya menjejaki pasir putih, hingga snorkeling menikmati keindahan terumbu karang dan ikan warna-warni. Apapun ragam aktivitasnya, dari yang santai hingga yang memicu adrenalin, traveling atau berwisata adalah kebutuhan dalam hidup.

Berwisata atau traveling tak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Sebagai salah satu kebutuhan tersier, traveling memberikan bayak hal positif. Kita bisa sejenak rehat dari kejenuhan aktivitas rutin, dan mencari suasana baru yang mampu menyegarkan kembali fisik maupun pikiran.

Riuhnya media sosial turut pula meramaikan tren ini. Sebuah postingan foto atau video pendek dengan latar gunung, pantai, hingga air terjun, berhasil menarik atensi banyak orang untuk berwisata ke tempat serupa. Banyak pula didapati konten medsos yang membahas informasi tempat wisata, itinerari, akses transportasi, hingga persiapan budget. Semuanya mempermudah perencanaan sebelum pergi berwisata.

Pun demikian bagi wisatawan muslim, selain research dan perencanaan yang baik, ada hal yang tak kalah penting yang perlu diperhatikan, yaitu hal-hal terkait dengan kebutuhan fasilitas penunjang yang muslim friendly. Hal ini menjadi penting, karena tuntutan pelaksanaan ibadah harian seperti sholat tetap melekat sekalipun dalam perjalanan. Semuanya perlu dipastikan terlebih dahulu agar kegiatan wisata tak malah menghambat pelaksanaan ibadah.

  1. Destinasi Tujuan Wisata

Hal pertama yang perlu diperhatikan tentu saja destinasi tujuan wisata, apakah di dalam negeri, ataukah luar negeri. Dua tujuan ini akan menentukan jarak dan lamanya waktu perjalanan, yang berpengaruh pada ketentuan syafar bagi muslimah. Destinasi di dalam negeri pun sangat beragam.  Landscape pantai atau pegunungan, keduanya terbentang sepanjang Aceh hingga Merauke.

Saat ini bahkan terdapat 10 Destinasi Halal Prioritas Nasional yang ditetapkan pemerintah, diantaranya; Aceh, Riau dan Kepulauan Riau, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur (Malang Raya), Lombok, dan Sulawesi Selatan (Makassar dan sekitarnya). Keberadaan destinasi halal akan memudahkan wisatawan muslim baik lokal maupun mancanegara dalam mendapatkan layanan tambahan amenitas, atraksi, dan aksesibilitas fasilitas yang menunjang pelaksanaan ibadah di tempat wisata.

Namun jikapun pilihan destinasi wisata jatuh kepada daerah yang masih sangat terbatas fasilitas pendukung ibadah untuk muslim, atau sulit mencari kuliner halal, tak perlu khawatir karena kita bisa memanfaatkan jasa tour guide halal yang bisa memandu sepanjang aktivitas berwisata. Tour guide halal akan mengatur itinerari selama liburan dengan tetap mengakomodir waktu ibadah, hingga merekomendasikan kuliner halal untuk bersantap.

  1. Efisiensi Packing

Berwisata tak hanya tentang mengunjungi dan menikmati suasana baru, namun juga mengabadikannya dalam format foto maupun video. Tak jarang dalam kunjungan wisata yang singkat kita perlu berstrategi dalam hal penampilan. Jangan sampai galeri foto dan video nantinya hanya mengenakan outfit itu-itu saja. Maka efisiensi mengemas pakaian hingga seni mix and match penting mendapat perhatian.

Pertama pastikan jumlah dan jenis pakaian yang harus dibawa sesuai dengan lamanya durasi liburan. Pilih bahan yang tak mudah kusut dan berbobot ringan. Jika menghabiskan waktu seminggu penuh, laundry pakaian bisa jadi pertimbangan dari pada membawa banyak baju dalam koper. Pilih pakaian dengan warna dan motif berbeda agar lebih variatif. Cukupkan jaket atau sweater 1 stel saja, dan pastikan matching dipadu-padankan untuk menciptakan looks yang berbeda.

Simak selengkapnya hanya di ((https://ihatecpublisher.com/majalah/halal-review-edisi-05-mei-2024/)

Wisata Halal di Turki: Menjelajahi Keindahan dan Kuliner Islami

Wisata Halal di Turki: Menjelajahi Keindahan dan Kuliner Islami

Turki adalah negara tujuan wisata favorit bagi wisatawan muslim. Negara ini banyak terdapat wisata halal yang mempesona baik wisata alam, wisata sejarah dan budaya, maupun wisata kulinernya. Apa saja wisata halal yang ditawarkan oleh negara ini?

Wisata halal telah menjadi tren penting dalam industri pariwisata global. Konsep ini merujuk pada bentuk perjalanan yang memenuhi kebutuhan dan persyaratan khusus wisatawan muslim, seperti akses ke makanan halal, fasilitas ibadah, dan akomodasi yang terpisah berdasarkan jenis kelamin. Pentingnya wisata halal terletak pada kemampuannya untuk memungkinkan wisatawan muslim menjelajahi dunia tanpa mengorbankan keyakinan dan nilai-nilai mereka (Wibawa dkk., 2021; Ahmed, 2023).

Turki, sebagai negara yang menjembatani benua Eropa dan Asia, menawarkan campuran yang kaya akan sejarah, budaya, dan keindahan alam. Dengan mayoritas penduduknya beragama Islam, Turki telah berhasil menarik perhatian wisatawan muslim dari seluruh dunia. Berdasarkan data the State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2023/24, yang dirilis DinarStandard, Turki menempati posisi pertama destinasi wisata ramah muslim di dunia. Fakta tersebut menunjukkan bahwa negara ini terus mempertahankan dan mungkin bahkan meningkatkan komitmennya terhadap wisata halal. Ini mencerminkan bagaimana Turki terus menjadi destinasi yang populer, menawarkan pengalaman yang nyaman dan familiar bagi pelancong Muslim.

Destinasi Wisata Halal di Turki

Turki, negara yang kaya akan budaya dan sejarah, menawarkan berbagai destinasi wisata menarik dan ramah bagi wisatawan muslim. Dari hiruk pikuk perbelanjaan di Istiklal Caddesi, hingga pesona alam Cappadocia yang menakjubkan, Turki memiliki sesuatu untuk semua orang.

Bagi wisatawan muslim, Turki menghadirkan pengalaman wisata halal yang tak terlupakan. Di Istiklal Caddesi, kita dapat menemukan berbagai toko, restoran, dan kafe yang menyediakan produk dan makanan halal. Di Cappadocia, kita dapat menikmati wisata balon udara dan mengunjungi kota bawah tanah kuno sambil mencicipi hidangan halal yang lezat.

Kunjungan ke Turki tidak lengkap tanpa mengunjungi ikon-ikon bersejarahnya, seperti Masjid Biru dan Benteng Rumeli Hisari. Masjid Biru menawarkan pengalaman spiritual yang mendalam dengan arsitektur dan desain interior yang menakjubkan, sedangkan Benteng Rumeli Hisari menyuguhkan pemandangan indah Selat Bosporus dan kota Istanbul.

Bagi pecinta alam, Pamukkale dengan teras mineral putihnya yang unik adalah destinasi yang wajib dikunjungi. Di sini, Anda juga dapat menemukan berbagai fasilitas yang ramah bagi wisatawan muslim.

Ingin mempelajari lebih lanjut tentang sejarah dan budaya Islam? Kunjungi Masjid Hagia Sophia dan Istana Topkapi. Masjid Hagia Sophia memadukan arsitektur Kristiani dan Islam dengan indah, sedangkan Istana Topkapi kini menjadi museum yang menyimpan koleksi lengkap peninggalan peradaban Islam.

Setiap destinasi di Turki menawarkan pengalaman unik dan menarik bagi wisatawan muslim, baik dari segi spiritual, budaya, maupun sejarah. Dengan keramahan penduduk lokal dan kemudahan aksesibilitas, Turki benar-benar merupakan destinasi wisata halal yang ideal.

Makanan Halal di Turki

Bagi wisatawan muslim, Turki tidak hanya menawarkan pesona wisata yang memukau, tetapi juga surga kuliner halal yang menggoda selera. Beragam hidangan kuliner dan otentik banyak kita jumpai saat berwisata di Turki.

Kebab, hidangan ikonik Turki, menjadi pilihan utama para pecinta kuliner. Daging panggang yang empuk dibalut roti hangat, ditemani sayuran segar dan saus khas, menghadirkan perpaduan rasa yang tak terlupakan.

Simit, roti bundar dengan taburan wijen putih, menjadi camilan favorit ataupun menu sarapan yang mengenyangkan. Rasanya yang gurih dan teksturnya yang renyah membuat simit digemari banyak orang.

simak selengkapnya di (https://ihatecpublisher.com/majalah/halal-review-edisi-05-mei-2024/)

Menjangkau Lokal dan Global dengan Kualitas Halal

Menjangkau Lokal dan Global dengan Kualitas Halal

PT Kao Indonesia memahami bahwa dengan memberikan produk bersertifikat halal dapat membangun kepercayaan konsumen. Lalu, bagaimana Perusahaan ini menjaga keberlangsungan produk halal?

Industri personal care & home care telah mengalami pertumbuhan yang pesat di Indonesia. Dalam konteks ini, sertifikasi halal menjadi salah satu aspek krusial yang tidak bisa diabaikan. Khususnya di Indonesia, negara dengan populasi muslim terbesar kedua di dunia setelah Pakistan (World Population Review, 2024). Sertifikasi halal bukan hanya sekedar label, namun juga sebuah kebutuhan dan diwajibkan oleh regulasi. Dengan populasi Indonesia hingga 87,2% yang merupakan muslim (BPS, 2020), potensi pasar halal dalam industri ini sangatlah besar dan menjanjikan.

Karena mayoritas populasi Indonesia beragama Islam, kebutuhan produk halal telah menjadi hal esensial dalam kehidupan sehari-hari. Produk tersertifikasi halal lebih mudah diterima dan dipercayai oleh konsumen muslim, sehingga menciptakan peluang bisnis yang luas. Namun, tantangan muncul ketika perusahaan harus memastikan bahwa produknya memenuhi standar kehalalan yang ketat. Proses sertifikasi yang keberadaan regulasi pemerintah, dan kebutuhan untuk menjaga kualitas produk dapat menjaditantangan. Namun, bagi perusahaan yang mampu mengatasi tantangan ini, peluang pasar yang besar dan loyalitas konsumen yang tinggi menanti di depan.

PT Kao Indonesia sebagai perusahaan yang berdiri sejak 18 Januari 1985, mampu menjawab tantangan tersebut, melalui sebuah visi menciptakan Kirei lifestyle, dimana masyarakat dapat menjalani keseharian dengan lebih bersih, sehat dan peace of mind selaras dengan lingkungan yang berkelanjutan melalui inovasi produk dan layanan yang dipersembahkan Kao Indonesia. Saat ini Kao Indonesia memiliki  pabrik di Cikarang dan Karawang, pusat logistik, perwakilan kantor penjualan, serta mitra distributor di seluruh Indonesia untuk memastikan produk-produk Kao Indonesia dapat dijangkau seluruh masyarakat.

Dalam hal jangkauan produk di luar pasar Indonesia, Diana Laksmono, Vice President Product Development, PT Kao Indonesia, mengatakan, “Dalam hal melakukan pengembangan produk, tidak hanya memikirkan pasar dalam negeri saja, namun juga memikirkan kebutuhan pasar luar negeri antara lain Malaysia, Bangladesh, Papua Nuigini dan Timor Leste.”

Halal; Langkah Kao Indonesia Menuju Kepercayaan Konsumen Muslim Indonesia

Untuk menenuhi kebutuhan pasar Indonesia, Diana mengatakan bahwa perusahaan sudah memulai sertifikasi halal secara bertahap sejak tahun 2017.

Melalui serangkaian tahapan yang ketat, PT Kao Indonesia memastikan memenuhi standar halal yang ditetapkan, mulai dari pemilihan bahan baku hingga proses produksi. Sertifikasi halal bukan hanya menjadi jaminan kehalalan, tetapi juga kunci untuk membangun kepercayaan dan loyalitas konsumen yang tinggi, khususnya di kalangan masyarakat muslim.

(Simak selengkapnya hanya di )